Pendahuluan
Vitamin B12 atau kobalamin merupakan mikronutrien esensial yang berperan dalam sintesis DNA, pembentukan eritrosit, pemeliharaan mielin, serta berbagai proses metabolisme yang mendukung fungsi sistem saraf. Pada populasi lanjut usia, kecukupan vitamin B12 menjadi perhatian penting karena proses penuaan sering disertai perubahan fisiologis saluran gastrointestinal, penurunan asupan nutrisi, multimorbiditas, dan penggunaan obat-obatan jangka panjang yang dapat memengaruhi absorpsi vitamin tersebut.
Dalam praktik klinis geriatri, defisiensi vitamin B12 dapat memberikan manifestasi yang beragam, mulai dari anemia, kelelahan, parestesia, gangguan keseimbangan, hingga penurunan fungsi kognitif. Namun, manifestasi tersebut tidak selalu muncul secara bersamaan. Bahkan, gangguan neurologis akibat defisiensi vitamin B12 dapat ditemukan tanpa disertai anemia atau makrositosis, sehingga penilaian klinis tidak dapat hanya mengandalkan pemeriksaan hematologi rutin [1].
POIN KLINIS
Defisiensi vitamin B12 dapat menyebabkan gangguan neurologis tanpa disertai anemia atau makrositosis. Karena itu, pemeriksaan hematologi normal tidak selalu menyingkirkan kemungkinan defisiensi vitamin B12.
Persoalan yang menarik adalah bagaimana menempatkan suplementasi vitamin B12 dalam pelayanan geriatri sehari-hari. Apakah seluruh lansia memerlukan suplementasi? Apakah dosis rendah, misalnya 50 mikrogram per hari, sudah memadai? Dan berapa lama terapi perlu diberikan agar memberikan manfaat yang optimal?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab berdasarkan bukti ilmiah, dengan membedakan antara kebutuhan nutrisi fisiologis, pencegahan kekurangan asupan, dan pengobatan defisiensi vitamin B12 yang telah menimbulkan gangguan klinis.

Perubahan Fisiologis pada Lansia dan Risiko Defisiensi Vitamin B12
Absorpsi vitamin B12 merupakan proses yang relatif kompleks. Vitamin B12 dari makanan umumnya terikat pada protein dan harus dilepaskan melalui aktivitas asam lambung dan enzim pencernaan. Selanjutnya, vitamin B12 berikatan dengan intrinsic factor yang diproduksi oleh sel parietal lambung, sebelum diserap pada ileum terminal.
Pada lansia, gastritis atrofi dan keadaan hipoklorhidria dapat mengurangi kemampuan lambung melepaskan vitamin B12 dari protein makanan. Keadaan ini dikenal sebagai food-bound cobalamin malabsorption, yaitu gangguan absorpsi vitamin B12 yang terikat pada protein makanan. Berbeda dengan vitamin B12 dalam makanan alami, vitamin B12 berbentuk kristalin atau bebas yang terdapat dalam suplemen tidak memerlukan proses pelepasan dari protein makanan, sehingga masih dapat diserap pada sebagian pasien dengan gangguan sekresi asam lambung [2].
Selain perubahan gastrointestinal, berbagai faktor dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin B12 pada lansia, antara lain asupan protein hewani yang tidak mencukupi, malnutrisi, penggunaan metformin jangka panjang, penggunaan proton pump inhibitor (PPI), serta riwayat pembedahan lambung atau ileum.
Keadaan tersebut menjadi semakin relevan pada pasien geriatri dengan multimorbiditas dan polifarmasi. Seorang lansia dengan diabetes melitus, misalnya, dapat mengalami neuropati perifer akibat penyakit diabetes itu sendiri, tetapi penggunaan metformin jangka panjang juga dapat meningkatkan kemungkinan defisiensi vitamin B12 yang berpotensi memperberat gangguan neurologis.
Dengan demikian, evaluasi status vitamin B12 sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan dalam pendekatan klinis lansia, terutama apabila ditemukan faktor risiko atau manifestasi yang mengarah pada defisiensi.
Bukti Klinis Suplementasi Vitamin B12 pada Lansia
Manfaat suplementasi vitamin B12 telah diteliti melalui berbagai desain penelitian, termasuk randomized controlled trial (RCT). Namun, hasil penelitian perlu ditafsirkan berdasarkan karakteristik pasien, status defisiensi awal, jenis intervensi, dosis, serta luaran klinis yang dinilai.
Dangour dan kolega pada tahun 2015 melakukan RCT tersamar ganda terhadap 201 lansia berusia sedikitnya 75 tahun dengan defisiensi vitamin B12 sedang secara biokimia, tetapi tanpa anemia atau manifestasi neurologis yang nyata. Kelompok intervensi mendapatkan vitamin B12 oral 1.000 mikrogram per hari selama 12 bulan, sedangkan kelompok pembanding mendapatkan plasebo.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan bermakna kadar vitamin B12 dan holotranskobalamin, serta penurunan kadar homosistein. Meskipun demikian, tidak ditemukan perbaikan bermakna pada parameter konduksi saraf maupun fungsi kognitif dibandingkan kelompok plasebo [3].
Temuan ini menunjukkan bahwa koreksi parameter biokimia tidak selalu diikuti perbaikan fungsi neurologis atau kognitif, khususnya pada pasien dengan defisiensi sedang tanpa manifestasi klinis yang nyata. Akan tetapi, hasil tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengobati pasien dengan defisiensi vitamin B12 yang telah menimbulkan gejala neurologis atau hematologis.
Penelitian lain oleh Eussen dan kolega pada tahun 2005 memberikan informasi penting mengenai hubungan dosis suplementasi dengan respons biokimia. Penelitian RCT tersebut melibatkan 120 lansia dengan defisiensi vitamin B12 ringan, yang dibagi menjadi kelompok pemberian sianokobalamin oral dengan dosis 2,5; 100; 250; 500; dan 1.000 mikrogram per hari selama 16 minggu.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan dosis-respons terhadap penurunan kadar methylmalonic acid (MMA), salah satu biomarker defisiensi vitamin B12 fungsional. Penurunan MMA terbesar ditemukan pada kelompok dosis 500 dan 1.000 mikrogram per hari. Analisis penelitian tersebut memperkirakan bahwa dosis sekitar 647–1.032 mikrogram per hari diperlukan untuk mencapai 80–90% respons penurunan MMA maksimal [4].
Penelitian tersebut memberikan pesan penting bahwa dosis yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian belum tentu memadai untuk mengoreksi defisiensi vitamin B12 yang telah terkonfirmasi secara biokimia.
Oleh karena itu, pemberian vitamin B12 harus mempertimbangkan tujuan terapi, apakah untuk memenuhi kekurangan asupan, mengoreksi defisiensi, atau mengatasi manifestasi klinis akibat defisiensi tersebut.
Rasionalitas Pemberian Vitamin B12 Dosis Rendah
Kebutuhan vitamin B12 harian orang dewasa berdasarkan Recommended Dietary Allowance (RDA) adalah sekitar 2,4 mikrogram. Angka tersebut merupakan jumlah asupan yang direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis sebagian besar individu sehat dan bukan merupakan dosis pengobatan defisiensi [5].
Dalam praktik klinis, dosis suplementasi yang digunakan dapat jauh lebih besar daripada kebutuhan fisiologis karena absorpsi vitamin B12 oral tidak berlangsung secara proporsional terhadap jumlah yang diberikan. Pada dosis yang lebih tinggi, proporsi vitamin yang diserap cenderung menurun, meskipun jumlah absolut yang terserap dapat meningkat.
National Health Service (NHS) Inggris mencantumkan sianokobalamin oral 50–150 mikrogram sekali sehari sebagai salah satu regimen untuk defisiensi vitamin B12 yang berkaitan dengan kekurangan asupan makanan [6]. Dengan demikian, dosis 50 mikrogram per hari mempunyai dasar penggunaan klinis, khususnya pada pasien yang kekurangan vitamin B12 terutama disebabkan oleh faktor diet.
Dalam pelayanan poli geriatri, pemberian sianokobalamin 50 mikrogram sekali sehari dapat dipertimbangkan pada lansia terpilih dengan asupan sumber vitamin B12 yang kurang, atau defisiensi akibat diet yang tidak disertai manifestasi neurologis signifikan maupun dugaan malabsorpsi berat.
Meskipun demikian, perlu ditegaskan bahwa belum terdapat bukti RCT yang memadai untuk menyatakan bahwa dosis 50 mikrogram per hari efektif memperbaiki frailty, fungsi kognitif, neuropati, ataupun kemandirian aktivitas sehari-hari pada seluruh populasi lansia. Dosis tersebut memiliki landasan sebagai salah satu pilihan penggantian vitamin B12 pada defisiensi terkait asupan, bukan sebagai terapi universal untuk sindrom geriatri.
Sebaliknya, pada defisiensi vitamin B12 yang disebabkan oleh malabsorpsi, pedoman NICE tahun 2024 merekomendasikan dosis vitamin B12 oral sedikitnya 1 miligram atau 1.000 mikrogram per hari apabila terapi oral dipilih. Pada kondisi tertentu, seperti gastritis autoimun, gastrektomi total, atau reseksi ileum terminal secara lengkap, pemberian vitamin B12 intramuskular jangka panjang bahkan seumur hidup direkomendasikan [1].
Hal ini menegaskan bahwa dosis rendah dan dosis tinggi bukanlah pilihan yang saling bertentangan, melainkan mempunyai indikasi berbeda berdasarkan penyebab dan derajat defisiensi.
PERTIMBANGAN KLINIS
Kebutuhan fisiologis, suplementasi pada kekurangan asupan, dan pengobatan defisiensi vitamin B12 merupakan tujuan yang berbeda. Pemilihan dosis harus mempertimbangkan penyebab defisiensi, kondisi absorpsi, serta manifestasi klinis pasien.
Pertimbangan Durasi Pemberian dan Evaluasi Terapi
Selain pemilihan dosis, durasi pemberian merupakan aspek penting dalam suplementasi vitamin B12 pada lansia. Sampai saat ini tidak terdapat satu durasi terapi yang berlaku untuk seluruh pasien karena kebutuhan suplementasi dipengaruhi oleh penyebab defisiensi, kondisi absorpsi, keberlanjutan faktor risiko, serta respons klinis.
Pedoman NICE tahun 2024 menganjurkan evaluasi awal pada sekitar tiga bulan setelah dimulainya terapi penggantian vitamin B12, atau lebih awal apabila gejala pasien cukup berat [1]. Evaluasi tersebut bertujuan menilai perkembangan gejala, kepatuhan pengobatan, kecukupan dosis, dan kemungkinan penyebab lain apabila keluhan tidak membaik.
Dalam praktik poli geriatri, pada pasien terpilih yang diberikan sianokobalamin oral 50 mikrogram per hari akibat kekurangan asupan, pemantauan awal selama sekitar 8–12 minggu dapat menjadi pendekatan yang praktis, dengan evaluasi klinis pada bulan ketiga. Namun, jangka waktu tersebut merupakan interval penilaian respons, bukan batas maksimal pemberian maupun jaminan bahwa defisiensi telah terkoreksi.
EVALUASI TERAPI
Evaluasi sekitar tiga bulan setelah dimulainya terapi bertujuan menilai respons klinis, kepatuhan, dan kecukupan pengobatan. Interval evaluasi ini bukan batas maksimal durasi suplementasi.
Apabila faktor penyebab berupa kekurangan asupan telah diperbaiki, gejala membaik, dan status vitamin B12 dinilai telah memadai, penghentian suplementasi dapat dipertimbangkan. Sebaliknya, apabila penyebab defisiensi masih berlangsung, kebutuhan terapi dapat berlanjut dengan pemantauan berkala.
Pada pasien yang memperoleh terapi oral tetapi tidak menunjukkan perbaikan yang memadai, perlu dilakukan penilaian ulang mengenai kepatuhan, kemungkinan gangguan absorpsi, kecukupan dosis, serta diagnosis alternatif. Peningkatan dosis atau perubahan menjadi terapi intramuskular dapat diperlukan sesuai indikasi.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa perbaikan gejala tidak selalu berlangsung secepat normalisasi parameter laboratorium. Manifestasi hematologis dan neurologis dapat mempunyai pola pemulihan berbeda, bahkan sebagian gangguan neurologis yang telah berlangsung lama mungkin tidak pulih sepenuhnya.
Implementasi Suplementasi Vitamin B12 dalam Pelayanan Geriatri
Dalam pelayanan geriatri, pemberian vitamin B12 sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari Comprehensive Geriatric Assessment (CGA). Pendekatan ini penting karena gangguan yang ditemukan pada lansia umumnya bersifat multifaktorial dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh kekurangan satu mikronutrien.
Pada pasien yang datang dengan keluhan mudah lelah, parestesia, penurunan keseimbangan, gangguan berjalan, atau penurunan fungsi kognitif, evaluasi perlu mencakup status nutrisi, riwayat penggunaan obat, penyakit penyerta, pemeriksaan neurologis, serta kemungkinan defisiensi vitamin B12.
Pemeriksaan kadar vitamin B12 serum atau vitamin B12 aktif dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal apabila terdapat indikasi. Pada keadaan hasil pemeriksaan yang meragukan, MMA dapat membantu menilai kemungkinan defisiensi fungsional. Namun, interpretasi MMA harus mempertimbangkan fungsi ginjal karena peningkatan MMA juga dapat terjadi pada gangguan ginjal.
Dalam konteks tersebut, pemeriksaan vitamin B12 bukan berarti seluruh lansia harus menjalani skrining laboratorium secara rutin. Pemeriksaan lebih tepat diarahkan pada pasien dengan gejala yang relevan, faktor risiko, atau keadaan klinis yang meningkatkan kemungkinan defisiensi.
Bagi lansia dengan asupan makanan yang tidak mencukupi, suplementasi dosis rendah dapat menjadi salah satu intervensi yang dipertimbangkan, tetapi tidak menggantikan perbaikan pola makan. Sumber vitamin B12 seperti daging, ikan, telur, susu, dan makanan yang difortifikasi tetap mempunyai peran dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.
Demikian pula pada pasien dengan frailty, sarkopenia, dan keterbatasan aktivitas sehari-hari, suplementasi vitamin B12 tidak dapat menggantikan latihan fisik, pemenuhan kebutuhan protein dan energi, rehabilitasi, serta pengendalian penyakit penyerta.
Dengan demikian, keputusan pemberian vitamin B12 sebaiknya tidak hanya didasarkan pada usia kronologis pasien, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nutrisi, gejala, risiko defisiensi, dan tujuan terapi yang ingin dicapai.
Kesenjangan Bukti dan Arah Pengembangan Penelitian
Meskipun banyak penelitian telah mengevaluasi vitamin B12 pada lansia, masih terdapat kesenjangan pengetahuan mengenai efektivitas suplementasi dosis rendah terhadap luaran geriatri yang bermakna secara klinis.
Sebagian besar RCT menggunakan dosis vitamin B12 yang relatif tinggi atau mengombinasikannya dengan asam folat dan vitamin B6. Penelitian semacam ini memberikan informasi mengenai efektivitas koreksi status biokimia maupun luaran klinis tertentu, tetapi belum secara langsung menjawab apakah suplementasi dosis rendah seperti 50 mikrogram per hari dapat memberikan manfaat tambahan terhadap fungsi fisik dan kemandirian lansia.
Di sisi lain, penelitian mengenai hubungan status vitamin B12 dengan frailty, sarkopenia, dan aktivitas kehidupan sehari-hari menunjukkan hasil yang belum konsisten. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan apakah respons terhadap suplementasi mungkin berbeda berdasarkan status B12 awal, jenis kelamin, status nutrisi, penggunaan metformin, derajat frailty, atau beban komorbiditas.
Penelitian prospektif pada pasien poli geriatri dapat dikembangkan dengan membandingkan perubahan status vitamin B12 dan parameter fungsional selama periode intervensi. Luaran yang dapat dinilai mencakup Short Physical Performance Battery (SPPB), kekuatan genggam, kecepatan berjalan, skor frailty, serta Katz ADL dan Lawton IADL.
Namun, penelitian mengenai dosis rendah perlu dirancang secara hati-hati. Pasien dengan defisiensi klinis yang telah jelas harus tetap menerima pengobatan standar yang adekuat, sehingga tidak ditempatkan pada kelompok terapi yang berisiko mendapatkan dosis tidak mencukupi.
Dengan desain yang tepat, penelitian tersebut berpotensi memberikan informasi mengenai kelompok lansia yang paling mungkin memperoleh manfaat dari suplementasi vitamin B12 dosis rendah, termasuk apakah terdapat pengaruh tambahan terhadap fungsi geriatri di luar koreksi parameter biokimia.
Kesimpulan
Vitamin B12 merupakan mikronutrien esensial yang memiliki peran penting dalam mempertahankan fungsi hematologis, neurologis, dan metabolisme tubuh. Pada lansia, risiko kekurangan vitamin B12 meningkat akibat perubahan gastrointestinal, keterbatasan asupan nutrisi, multimorbiditas, dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa koreksi defisiensi vitamin B12 perlu dibedakan dari suplementasi yang bertujuan mempertahankan kecukupan nutrisi. Peningkatan kadar vitamin B12 dalam darah tidak selalu diikuti perbaikan fungsi kognitif, neurologis, atau kapasitas fungsional, terutama pada pasien tanpa manifestasi defisiensi yang nyata.
Dalam praktik poli geriatri, sianokobalamin oral 50 mikrogram sekali sehari dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan pada lansia terpilih dengan kekurangan asupan atau defisiensi yang berkaitan dengan diet, tanpa dugaan malabsorpsi berat atau manifestasi neurologis signifikan. Evaluasi awal dapat dilakukan sekitar tiga bulan, sedangkan keputusan melanjutkan atau menghentikan terapi ditentukan oleh penyebab defisiensi dan respons pasien.
Pada defisiensi yang lebih bermakna, khususnya akibat malabsorpsi atau disertai manifestasi klinis yang serius, dibutuhkan pengobatan dengan dosis lebih tinggi atau terapi parenteral sesuai indikasi.
Dengan demikian, suplementasi vitamin B12 dalam pelayanan geriatri sebaiknya dilakukan secara selektif, individual, dan berbasis bukti. Pendekatan tersebut memungkinkan koreksi masalah nutrisi yang dapat diperbaiki tanpa menambah terapi yang tidak diperlukan, sekaligus membuka peluang penelitian mengenai kontribusi suplementasi vitamin B12 terhadap pemeliharaan fungsi dan kemandirian lansia.
Daftar Pustaka
1. National Institute for Health and Care Excellence. Vitamin B12 deficiency in over 16s: diagnosis and management. NICE Guideline NG239. London: NICE; 2024. https://www.nice.org.uk/guidance/ng239
2. Allen LH. Vitamin B12 deficiency in the elderly. Annu Rev Nutr. 1999;19:357–377. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10448529/
3. Dangour AD, Allen E, Clarke R, et al. Effects of vitamin B-12 supplementation on neurologic and cognitive function in older people: a randomized controlled trial. Am J Clin Nutr. 2015;102(3):639–647. https://doi.org/10.3945/ajcn.115.110775
4. Eussen SJPM, de Groot LCPGM, Clarke R, et al. Oral cyanocobalamin supplementation in older people with vitamin B12 deficiency: a dose-finding trial. Arch Intern Med. 2005;165(10):1167–1172. https://doi.org/10.1001/archinte.165.10.1167
5. National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Vitamin B12: Fact Sheet for Health Professionals. https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminB12-HealthProfessional/
6. National Health Service. How and when to take cyanocobalamin. NHS Medicines. https://www.nhs.uk/medicines/cyanocobalamin/how-and-when-to-take-cyanocobalamin/
7. Sanz-Cuesta T, González-Escobar P, Riesgo-Fuertes R, et al. Oral versus intramuscular administration of vitamin B12 for vitamin B12 deficiency in primary care: a pragmatic, randomised, non-inferiority clinical trial (OB12). BMJ Open. 2020;10:e033687. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2019-033687
8. Ford AH, Almeida OP. Effect of vitamin B supplementation on cognitive function in the elderly: a systematic review and meta-analysis. Drugs Aging. 2019;36(5):419–434. https://doi.org/10.1007/s40266-019-00649-w
